Orang tua versus Remaja

Sebagai guru BK di SMP saya sering di mintai pendapat oleh orang tua mengenai putra/i mereka. Kebanyakan orang tua merasa kebingungan menghadapi putra/i nya yang baru menginjak masa remaja. Menurut mereka anaknya tidak seperti dulu lagi.Mulai memberontak,egois,di nasehati salah,tidak di nasehati apalagi..membingungkan ! kurang lebih seperti itulah keluhan para orang tua itu mengenai anak remaja mereka.

Anak usia SMP memang masuk dalam kategori remaja awal-pertengahan.Masa remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak.Pada masa ini terjadi banyak perubahan (perkembangan) pada seorang individu.Selain perubahan pada fisik yang dapat terlihat,juga perubahan dari segi psikososial individu remaja tsb.

Perubahan pada masa remaja ini sering kali menbuat oran tua bingung dan “kewalahan” dalam menghadapi anak remajanya. Orang tua perlu memahami tentang dunia remaja agar dapat mendidik anak remajanya dengan bijaksana. Guru sebagai orang tua di sekolah pun harus senantiasa meriview dan meng up grade pengrtahuan dan pemahamannya mengenai remaja agar dapat memberikan pendidikan yang terbaik.Terus terang,saya sendiri sebagai guru BK di SMP yang sehari-harinya menangani permasalahan siswa (remaja) masih sering bingung dan “kewalahan” menghadapi mereka. Oleh karena itu saya pun terus belajar,salah satunya browsing internet untuk mencari info dan ilmu yang bisa saya manfaatkan dalam pekerjaan saya.

Berikut ini salah satu info menarik yg saya kutip dari situs Rumah Belajar Psikologi mengenai beberapa isu tentang remaja dan bagaimana cara orang tua/keluarga menghadapai remaja. Walaupun info ini sudah pernah saya dapatkan di bangku kuliah,dan kebanyakan guru dan orang tua mungkin sudah tahu mengenai hal ini menurut saya ini penting untuk di review kembali.Karena saya sendiri sering kali lupa mengenai hal ini.

Remaja dan Self-esteem
Menurut Reasoner (2004), sebanyak 12% individu menunjukkan adanya penurunan self-esteem setelah memasuki sekolah menengah pertama, dan 13% memiliki self-esteem yang rendah pada sekolah menengah. Remaja wanita dikatakan mengalami kenaikan self-esteem pada usia antara 18 hingga 23 tahun melalui aspek-aspek moral dan hubungan pertemanan. Pada remaja, perubahan self-esteem terjadi pada 3 dimensi, yakni dalam hubungan personal, ketertarikan dengan lawan jenis, serta kompetensi dalam pekerjaan.

Permasalahan yang sering dialami dalam masa remaja adalah masalah tidak percaya diri karena tubuhnya dinilai kurang / tidak ideal baik oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri, atau merasa tidak memiliki kelebihan yang bisa dipakai sebagai modal dalam bergaul. Rasa kurang percaya diri ini kemudian menyebar ke hal-hal yang lain, misalnya malu untuk berhubungan dengan orang lain, tidak percaya diri untuk tampil di muka umum, menarik diri, pendiam, malas bergaul dengan lawan jenis atau bahkan kemudian menjadi seorang yang pemarah, sinis, dll. Dalam perkembangan sosial remaja, self-esteem yang positif sangat berperan dalam pembentukan pribadi yang kuat, sehat dan memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan, termasuk mampu berkata “tidak” untuk hal-hal yang negatif dengan kata lain tidak mudah terpengaruh berbagai godaan yang dihadapi seorang remaja setiap hari dari teman sebaya mereka sendiri (peer pressure) (Utamadi, 2001).

Self-esteem yang rendah akan memperlemah hubungan yang dibina dengan orang lain, sedangkan self-esteem yang tinggi akan mendukung remaja untuk mengembangkan hubungan mereka dengan orang lain. Selain itu, Masters & Johnson (2001) juga mengatakan bahwa self-esteem ini juga berpengaruh terhadap sikap seseorang terhadap statusnya sebagai remaja. Seorang remaja yang memiliki self-esteem yang positif maka ia tidak akan mudah terbawa godaan yang banyak ditawarkan oleh lingkugan. Misalnya dari sebuah penelitian, ditemukan bahwa. remaja yang mempunyai self-esteem rendah cenderung lebih mudah mencoba menyalahgunakan obat-obatan atau mengkonsumsi napza.

Orientasi Masa Depan dalam Bidang Pendidikan
Di antara orientasi masa depan yang mulai diperhatikan pada usia remaja, orientasi masa depan remaja akan lebih terfokuskan dalam bidang pendidikan. Hal ini dinyatakan oleh Eccles (dalam Santrock, 2004), dimana usia remaja merupakan usia kritis karena remaja mulai memikirkan tentang prestasi yang dihasilkannya, dan prestasi ini terkait dengan bidang akademis mereka. Suatu prestasi dalam bidang akademis menjadi hal yang serius untuk diperhatikan, bahkan mereka sudah mampu membuat perkiraan kesuksesan dan kegagalan mereka ketika mereka memasuki usia dewasa (Santrock, 2001).

Penelitian yang dilakukan Bandura (dalam Santrock, 2001) terkait dengan prestasi remaja, diketahui kalau prestasi seorang remaja akan meningkat bila mereka membuat suatu tujuan yang spesifik, baik tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Selain itu, remaja juga harus membuat perencanaan untuk mencapai tujuan yang telah dibuat. Dalam proses pencapaian tujuan, remaja juga harus memperhatikan kemajuan yang mereka capai, dimana remaja diharapkan melakukan evaluasi terhadap tujuan, rencana, serta kemajuan yang telah mereka capai (Santrock, 2001), sehingga dapat dikatakan kalau orientasi masa depan yang dimiliki remaja akan lebih terkait dengan bidang pendidikan.

Remaja dan Perilaku Konsumtif
Hurlock (1991) menyatakan salah satu ciri masa adalah masa yang tidak realistik. Pada masa ini, umumnya remaja memandang kehidupan sesuai dengan sudut pandangnya sendiri, yang mana pandangannya itu belum tentu sesuai dengan pandangan orang lain dan juga dengan kenyataan. Selain itu, bagaimana remaja memandang segala sesuatunya bergantung pada emosinya sehingga menentukan pandangannya terhadap suatu objek psikologis. Sulitnya, emosi remaja umumnya belum stabil. Secara psikososial terlihat perkembangan remaja pun memandang dan menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan peran mereka sebagai konsumen.

Seiring perkembangan biologis, psikologis, sosial ekonomi tersebut, remaja memasuki tahap dimana sudah lebih bijaksana dan sudah lebih mampu membuat keputusan sendiri (Steinberg, 1996). Hal ini meningkatkan kemandirian remaja, termasuk juga posisinya sebagai konsumen. Remaja memiliki pilihan mandiri mengenai apa yang hendak dilakukan dengan uangnya dan menentukan sendiri produk apa yang ingin ia beli. Namun di lain pihak, remaja sebagai konsumen memiliki karakteristik mudah terpengaruh, mudah terbujuk iklan, tidak berpikir hemat, kurang realistis

Dalam kaitannya dengan perilaku remaja sebagai konsumen, walaupun sebagian besar tidak memiliki penghasilan tetap, tetapi ternyata mereka memiliki pengeluaran yang cukup besar. Sebagian besar remaja belum memiliki pekerjaan tetap karena masih sekolah. Namun, para pemasar tahu bahwa sebenarnya pendapatan mereka tidak terbatas, dalam arti bisa meminta uang kapan saja pada orang tuanya (Loudon & Bitta, 1984).

Salah satu fungsi aktivitas remaja adalah fungsi ekonomi. Jumlah populasi remaja dan fakta bahwa remaja kurang terampil dalam mengelola keuangan daripada kelompok usia lainnya yang menyebabkan remaja menjadi target menarik bagi bermacam-macam bisnis (Fine et al., 1990 dalam Steinberg, 2000). Dalam usianya, remaja cenderung belanja lebih impulsive, dimana usia 18-39 tahun kecenderungan belanja impulsive meningkat (Wood, 2003).

Remaja dan keluarga
Keluarga merupakan suatu sistem yang bersifat dinamis. Keluarga merupakan sistem yang hampir sama dengan manusia, ia berkembang berdasarkan waktu. Perubahan terjadi di dalam keluarga, keluarga pada waktu anak berada pada tahap perkembangan anak berbeda dengan keluarga pada waktu anak sudah beranjak dewasa.

Pada umumnya orang tua yang memiliki anak yang sudah berada dalam tahap perkembangan remaja berada pada usia 35-40 tahun. Pada usia ini orang tua sering mengadakan perubahan dari kehidupannya sebelumnya. Orang tua mulai untuk menarik diri dan cara berpikirnya berusaha untuk mencari cara yang aman.
Tidak hanya orang tua yang bertambah usianya, anak pun mulai beranjak remaja. Ia mulai untuk bersikap mandiri. Perubahan pada orang tua membawa dampak pada hubungan remaja dengan orang tua.  Sebelumnya, anak mencari nasihat dari orang tua, sedangkan sekarang remaja mulai merasa dirinya lebih mudah dipahami oleh teman-temannya. Remaja sering merasa orang tua kurang memberi kebebasan yang bertanggung jawab. Orang tua tetap bersikap otoriter. Perbedaan perilaku dan kebutuhan ini mengaibatkan keduanya berada dalam permasalahan.  Perubahan-perubahan yang ada di dalam keluarga ini membuat keluarga berada dalam keadaan yang tidak seimbang, maka perlu dicari pemecahannya agar keluarga berada kembali dalam keadaan yang homeostatis.

Kebutuhan dari masing-masing pihak, baik dari orang tua maupun dari anak yang berada pada masa remaja ini ingin dipenuhi. Menurut Mappiare (1982), kebutuhan remaja yang menuntut pemenuhan dari orang tua adalah pengakuan sebagai orang yang mampu untuk menjadi dewasa, perhatian dan kasih sayang.
Kontrol dari orang tua juga menjadi hal yang penting bagi remaja, menurut Blood (dalam Purwati,1989), ada bebepa hal yang berkaitan dengan kontrol orang tua, yaitu:

1. Dalam menentukan standar dari tingkah laku yang dituju

a. Bagaimana ketepatan dan kejelasan peraturan yang dibuat (firmness).

Jika orang tua menetapkan patokan (standart) yang jelas dan pasti bagi anak – anaknya dimana disertai dengan kebebasan di dalam patokan yang telah ditentukan, maka anak akan mendapat lingkungan yang baik bagi perkembangan sosialnya. Jika orang tua tidak memberikan patokan dan peraturan yang jelas maka berarti anak tidak dilindungi dari arah perkembangan yang dapat membahayakan penyesuaian sosial maupun kepribadiannya.

b. Konsistensi

Jika norma – norma atau peraturan yang diberikan ingin efektif, maka peraturan tersebut haruslah dimengerti, jelas dan konsisten dalam pelaksanaannya. Ketidakjelasan dapat tampil jika kedua orang tua menerapkan peraturan yang berbeda, atau dalam pelaksanaannya seringkali tak tetap. Dari hasil penelitian Peck (1958) didapatkan bahwa anak – anak dari keluarga yang menetapkan konsistensi dari peraturan yang ditetapkan akan membentuk anak yang secara emosi matang, kata hatinya kuat, dan mampu untuk menepati peraturan – peraturan sosial.

c. Peraturan yang dapat diterapkan

Mengharapkan terlalu banyak atau terlalu rendah akan patokan – patokan yang harus dikuasai anak, tidak akan membentuk anak menjadi matang. Jika standar terlalu rendah anak menjadi tidak terdorong untuk maju, jika terlalu tinggi anak akan kecewa karena tidak dapat mencapainya. Jadi standar yang ditentukan harus disesuaikan dengan tingkatan usia dengan kondisi seperti ini anak akan terdorong maju untuk menguasai sesuatu tujuan.

d. Penjelasan (reasoning)

Peraturan yang diiringi penjelasan akan mampu membentuk kontrol yang bersifat intrinsik, sedangkan jika tanpa penjelasan maka anak tidak akan mampu untuk mematuhinya karena peraturan tersebut bersifat eksternal, dimana kepatuhan yang ada hanya tergantung dengan adanya kehadiran orang tua saja.

e. Mendengarkan (Listening)

Penjelasan peraturan pada anak tidak saja hanya berbicara pada anak tapi juga mendengarkan reaksi dari anak. Dengan mendengarkan, orang tua dapat penegasan apakah anak dapat mengerti tentang hal – hal yang dibicarakan. Selain itu juga dapat menjadi tempat untuk memecahkan masalah jika anak merasa permintaan orang tua tidak dapat diterima. Dalam hal ini anak dan orang tua dapat bersama – sama mencari alternatif, sehingga dapat  sampai pada tujuan yang ingin dicapai. Kondisi ini juga mengembangkan suasana penghargaan terhadap anak dan orang tua.

2. Memperkuat proses belajar
Teori belajar mengatakan bahwa suatu respon harus diberi ‘reward’ (hadiah) jika ingin diperkuat. Dalam hal ini bagaimana respon orang tua akan menentukan kecepatan suatu respon dipelajari oleh seorang anak.

Pengarahan dan percayaan
Pada masa kanak – kanak orang tua diharapkan untuk memberi pengarahan secara konsisten, agar ia mampu untuk menguasai tugas – tugas perkembangannya.

Sedangkan semakin dewasa anak, anak lebih membutuhkan kepercayaan dari orang tua untuk dapat melaksanakan tugasnya, keperayaan yang diebrikan orang tua bahwa ia ammpu menyelesaikan tugas – tugas yang telah disepakati bersama, merupakan suatu ‘incentives’ tersendiri.

Hadiah dan hukuman
Jika seorang anak mampu menyelesaikan suatu tugas, pemberian hadian akan memperkuat rasa kemampuannya, kompensasi terhadap kesulitan – kesulitan yang dialaminya, dan memperkuat keinginan untuk mengulangi tingkah lakunya. Jika anak tidak dapat menyelesaikan suatu tugas ia tidak akan mendapatkan hadiah. Sebaiknya pemberian hukuman dihindarkan, karena berakibat menyakitkan baik secara fisik maupun psikologis, selain itu akan timbul rasa dendam yang akan menghalangi proses sosialisasi. Hadiah dan hukuman dapat dibagi dalam bentuk fisikan dan bersifat psikologis. Secara umum hadiah yang bersifat psikologis lebih efektif dibandingkan dengan hukuman yang bersifat fisik.

Dengan demikian kontrol menjadi hal penting dari orang tua pada remaja dalam mengatasi permasalahan remaja yang berkaitan dengan kebutuhan remaja untuk diberi kebebasan. Namun tidak hanya remaja yang memiliki permasalahan, orang tua juga memiliki permasalahan dengan remaja.

Orang tua juga sering merasa tidak diperhatikan, anak remajanya lebih senang meluangkan waktu lebih banyak dengan teman – temannya, sehingga orang tua merasa membutuhkan perhatian dari anak remajanya lebih banyak. Untuk mencapai hal tersebut, maka interaksi yang baik sangat dibutuhkan. Dukungan dari remaja bagi orang tuanya dibutuhkan, demikian juga dukungan dari orang tua sangat dibutuhkan remaja. Dukungan ini dapat diperoleh jika masing-masing pihak mau bekerja sama untuk mencapainya. Remaja  sangat membutuhkan orang tuanya dalam mencari identitas dirinya, yang pada masa ini sedang dicari.

Menurut Gerald (1983), keluarga menyediakan 3 fungsi dasar sebelum, selama dan setelah masa remaja. 3 fungsi ini tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh peergroups / struktur sosial yang lain sepanjang hidup. 3 fungsi tersebut adalah:

Keluarga menyediakan  ‘sense of cohesion’

Kohesi ini atau ikatan emosi membuat kondisi untuk identifikasi dengan kelompok dasar yang utama dan meningkat secara emosional, intelektual dan kedekatan fisik

Keluarga menyediakan model kemampuan adaptasi.

Keluarga mengilustrasikan melalui fungsi dasar bagaimana sebuah struktur kekuatan dapat berubah, bgaimana peran hubungan dapat berkembang dan begaimana peraturan hubungan dapat terbentuk. Remaja yang memiliki pengalaman tipe keluarga yang rigid (rendah tingkat adaptasinya) cenderung terinternalisasi gaya interaksi yang rigid. Sebaliknya, terlalu banyak kemampuan adaptasi dapat membuat gaya ‘chaotic’. Keseimbangan penting untuk fungsi ini, hal yang sama juga dengan kohesi.

Keluarga menyediakan sebuah jaringan komunikasi

Melalui pengalaman dimana individu belajar seni dari pembicaraan, interaksi, mendengarkan dan negosiasi.

Sumber pustaka

Reasoner, R. (2004). The True Meaning of Self-Esteem. http://www.self-esteem-nase.org/whatisselfesteem.shtm

Di kutip dari:

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/isu-remaja.html

Komentar (2) »

Umar Bakri

Kalau menurut kamu Umar bakri itu Cuma identiksama profesi guru dengan sepeda ontelnya,dan Cuma ada di jaman dulu aja.Well,think again,kalo menurutku sih keadaanku sebagai guru juga kadang mirip2 ma tokoh Umar Bakri: Mengabdi dalam kesederhanaan (ehm..)

Nah,Ini cerita tentang Umar Bakri tahun 2006:

Siang tadi aku hampir yakin kalau hari ini adalah hari sial ku.Berangkat ke Sekolah dengan jalan kaki,tengah hari bolong! Supaya sehat….dan irit!(maklum tanggal tua).Di Sekolah langsung menangani beberapa siswa “bermasalah”.Dua orang siswaku “tersayang” benar-benar membuatku marah.Kepalaku terasa pusing sekali.Kapok kapok deh aku.Gak mau marah-marah kaya gitu lagi,gak ada gunanya!

Sorenya aku berniat home visit ke daerah Kopem.Salah seorang siswaku “kumat” gak Sekolah tiga hari belakangan ini. Ketika akan meminta ongkos,ruang bendahara sekolah sudah kosong. “Mr.money”sudah pulang,kata mas Yono penjaga Sekolah. Aku tenang saja,berniat ke ATM dulu di warung jambu. Soalnya di saku Cuma ada Rp 7500. Eh pas di ATM ternyata gak bisa narik uang lagi,karena saldo tidak mencukupi katanya. Tapi karena aku adalah “si Tina yang keras kepala” aku tetap pergi juga.Aku pikir Kopem kan Jaraknya dekat,cuma sekali naik angkot.

Tapi ternyata sesampainya di Kopem aku masih harus naik becak untuk sampai ke alamat rumah siswaku itu. Ya udah aku naik.Aku pikir kalo ongkosnya gak cukup,pulangnya jalan kaki aja,gak usah naik becak.Tapi ternyata lagi,alamat rumahnya sudah pindah.Tetangganya bilang mereka pindah ke jln.kesenian.Dua blok dari alamatnya yang lama.So, aku sama abang becak nyari alamat rumah itu di tengah hujan deras (kasian si abang becak…dan aku!).Akhirnya ketemu.Aku kepikiran takut ongkos gak cukup.Rok ku basah,kepala ku pusing.Si abang becak menawarkan diri untuk menungguku,tanpa ongkos tunggu katanya ( abang becak yang baik). Entah kenapa aku setuju aja,padahal ongkosnya untuk pulang-pergi sudah pasti pasti gak sesuai dengan uang di sakuku.Setelah ngobrol-ngobrol dengan sang murid “tersayang” dan orang tuanya akupun bersiap untuk pulang.Tiba-tiba mamanya siswa ku itu tiba-tiba memasukkan selembar uang ke dalam saku depan tasku.Sekilas kukira uang itu RP 5000.Aku berusaha menolak,tapi ia memaksa.Dalam hati aku bersorak “horee aku selamat!”

Dalam perjalanan pulang aku lihat uang pemberian itu,ternyata Rp 50.000.Wah aku jadi pengen nangis deh,terharu. Bukan karena jumlah uangnya.Tapi karena aku pikir betapa Allah sudah sangat baik padaku.Dan betapa lemahnya aku, baru di coba sedikit aja udah banyak ngeluh.dan gak ada itu yang namanya hari sial.Bodoh banget ya aku! Coba bayangin,seumur-umur belum pernah aku home visit ada orang tua yang ngasih ongkos.Pernah sih ada yang mau ngasih amplop ( ada isinya tentu aja!) sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah memperhatikan anaknya,katanya waktu itu.Tapi aku berhasil nolak.Tadi aku udah berusaha nolak (sungguh!) tapi gak berhasil.Aku yakin banget kalau itu pertolongan Allah (ya gak?)

Dan tau gak? Muridku “tersayang” itu berhasil aku bujuk untuk masuk sekolah lagi. Ia berjanji kali ini akan lebih rajin dan lebih semangat lagi belajarnya.

Nah,makanya bu guru Tina SEMANGATLAH!!

Hari gini jadi Umar Bakri? Siapa takut!! ;-p

Bogor, April 2006

Ini adalah salah satu tulisan saya di Blog friendster saya.Saya posting disini selain karena saya anggap ini seabagai salah satu pengalaman berharga saya sbg guru,juga karena saya belum sempat membuat tulisan baru. :-)

Komentar (2) »

Rahasia Kebahagiaan

Here is one of my favourite story :
Seorang pemilik toko mengirim putranya untuk belajar tentang rahasia kebahagiaan dari pria yang paling bijaksana di dunia.Si bocah mengembara,menyeberangi gurun selama 40 hari,dan akhirnya sampailah ia ke satu Istana yang indah,tinggi dipuncak gunung.Di sanalah orang bijak itu tinggal.
Tanpa mencari orang bijak itu dulu,pahlawan kita langsung saja memasuki ruang utama istana itu,melihat macam2 kegiatan: para pedagang datang dan pergi,orang2 berbincang du sudut2,orkestra kecil memainkan musik yang lembut,dan ada sebuah meja yang dipenuhi piring2 makanan terlezat yg ada di belahan dunia tersebut.Si orang bijak bercakap2 dengan setiap orang,dan si anak harus menunggu selama dua jam sebelum akhirnya dia mendapat perhatian orang itu. Baca entri selengkapnya »

Komentar (2) »

Pendidikan “Paket komplit”

Pendidikan “Paket Komplit”
( all in one package)

Berawal ketika saya melihat acara Oprah Winfrey Show:
Ada perdebatan mengenai perlu tidaknya pelajaran mengenai Alkitab(Bible) di Sekolah Umum.Seorang ahli agama (bintang tamu) berkeras bahwa hal itu perlu sekali; Alkitab dipelajari sebagai literatur sastra yang dapat memperkaya pengetahuan siswa seperti buku literatur sastra lainnya.
Oprah kemudian mempertanyakan kurang lebih seperti ini:”Sebagai seorang yang religius apakah anda rela bila Alkitab disamakan dengan literatur sastra lainnya? Dan kalau Alkitab diajarkan di Sekolah Umum, berarti Al Qur’an ,dan kitab agama lainnyapun harus diajarkan pula dong?” Baca entri selengkapnya »

Komentar (1) »

Tentang Saya

         Saya adalah seorang guru bimbingan   konseling di salah satu sekolah menengah  pertama di Bogor.

Sebagai guru BK di sekolah, saya ingin sharing dengan teman seprofesi agar apresiasi saya sebagai guru BK bertambah.

Semoga tulisan-tulisan saya bermanfaat juga buat teman-teman sekalian.

Dan masukan serta kritik seputar tulisan saya mohon posting melalui ruang yang saya sediakan di setiap bawah tulisan yang ada. Baca entri selengkapnya »

Komentar (6) »

Apresia terhadap BK di sekolah masih rendah (Oleh: Daspen Haryadi)

Mendengar istilah bimbingan dan konseling (BK) tersirat kesan bahwa individu yang berurusan dengan petugas tersebut sedang bermasalah. Anggapan seperti ini tentu ada benarnya. Namun, persoalannya menjadi lain, tatkala individu yang bermasalah ditujukn kepada orang-orang tertentu.

Kenyataan ini dengan mudah dapat dilihat di sekolah-sekolah. Umumnya, siswa yang berhubungan dengan guru BK adalah mereka yang dikategorikan nakal. Istilah nakal biasanya diidentifikasikan dengan perilaku siswa yang sering bolos, terlibat tawuran, perkalhian, terlambat, dan lain-lain. Singkatnya, seswa berhubungan degnan guru BK adlah, mereka yang sudah tercatat dalam “buku hitam” sekolah. Baca entri selengkapnya »

Komentar (3) »

Pentingnya Bimbingan Konseling di Sekolah (Oleh :St Kartono)

TUJUAN pendidikan menengah acap kali dibiaskan oleh pandangan umum; demi mutu keberhasilanakademis seperti persentase lulusan, tingginya nilai Ujian Nasional, atau persentase kelanjutan ke perguruan tinggi negeri. Kenyataan ini sulit dimungkiri, karena secara sekilas tujuan kurikulum menekankan penyiapan peserta didik (sekolah menengah umum/SMU) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau penyiapan peserta didik (sekolah menengah kejuruan/SMK) agar sanggup memasuki dunia kerja. Penyiapan peserta didik demi melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi akan melulu memperhatikan sisi materi pelajaran, agar para lulusannya dapat lolos tes masuk perguruan tinggi. Akibatnya, proses pendidikan di jenjang sekolah menengah akan kehilangan bobot dalam proses pembentukan pribadi. Baca entri selengkapnya »

Komentar (17) »