Apresia terhadap BK di sekolah masih rendah (Oleh: Daspen Haryadi)

Mendengar istilah bimbingan dan konseling (BK) tersirat kesan bahwa individu yang berurusan dengan petugas tersebut sedang bermasalah. Anggapan seperti ini tentu ada benarnya. Namun, persoalannya menjadi lain, tatkala individu yang bermasalah ditujukn kepada orang-orang tertentu.

Kenyataan ini dengan mudah dapat dilihat di sekolah-sekolah. Umumnya, siswa yang berhubungan dengan guru BK adalah mereka yang dikategorikan nakal. Istilah nakal biasanya diidentifikasikan dengan perilaku siswa yang sering bolos, terlibat tawuran, perkalhian, terlambat, dan lain-lain. Singkatnya, seswa berhubungan degnan guru BK adlah, mereka yang sudah tercatat dalam “buku hitam” sekolah.

Jarang sekali (untuk tidak menyebut tidak ada), siswa yang pintar, rajin, dan berkelakuan baik berhubungan dengan guru BK. Dengan kata lain, guru BK hanya meiliknya siswa –siswa yang terhitung bandel. Karenanya, sangat beralasan bila kemudian guru BK diidentikkan sebagai “polisinya sekolah”.

Pemahaman dan pelaksanaan BK seperti ini tentu tidak dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah. Melainkan sebaliknya, merintis masalah baru. Masalah pertama, benarkah siswa yang pintar, rajin, dan berkelakukan baik tidak butuh Guru BK: kedua, Guru BK yang memposisikan diri sebagai polisi sekolah tidak singkron dengan manhaj (metode) yang diturnkan konsep BK.

Pendapat dan/atau pelaksanaan BK di sekolah-sekolah yang hanya untuk siswa yang masuk kategori nakal, jelas tidak dapat dibenarkan. Karena, pada hakikatnya, BK ditujukan untuk semua siswa. Bukan siswa-siswa tertentu. Hanya saja, model BK yang mereka perlukan dapat saja brbeda. BK untuk siswa pintar, tentu beda dengan model BK untuk siswa yang berkemampuan akademik rata-rata, dan di bawah rata-rata. Seswa yang sering terlibat tawuran, tentu butuh model BK yang lain dengan BK yang diperlukan tuk siswa yang pintar. Begitu pula seterusnya, semua siswa membutuhkan BK.

Dalam pelaksanaannya, guru BK yang bertindak sebagai polisi sekolah, jelas tidak menguntungkan bagi pelaksanaan BK itu sendiri. Karena, BK akan berjalan efektif dan dapat mencapai tujuan, bila Guru BK sudah menjadi pengayom atau tempat curhat para siswa. Bukan untuk membentak-bentak siswa atau menakut-nakuti siswa. Bila guru BK memposisikan diri sebagai polisi sekolah, masalah yang dihadapi siswa akan sulit dipahami. Apalagi mencarikan solusinya, atau bisa jadi solusi yang diberikan tidak tepat dan menjadi masalah baru. Karenanya, tidak semua guru bisa menjadi guru BK.

Gambaran umum salah kiprahnya pelaksanaan BK di sekolah – sekolah saat ini butuh perhatian khusu kita bersama. Sedangkan, untuk tempat lain seprti perusahaan, perkantorn, instansi dan lainnya, pelaksanaan BK nyaris tidak terlihat. Artinya, kalaupun ada tidak akan lebih baik dari pelaksanaan BK di sekolah-sekolah. Padahal, BK tidak mengenal batas ruang. Hampir seluruh dimensi hidup manusia memerlukan BK.

Fenomena ini jelas tidak wajar. Terbaikannya BK telah menjadikan seseorang tidak dapat mengekspolarasi dan mengktualisasikan potensi diri secara maksimal, karenanya, sudah selayaknya menempatkan kembali BK pada posisi urgen dalam hidup kita.

Buku Landasan Bimbingan dan Konseling ini, adalah dalam rangka sumbangsih pemikiran me-reposisi pelaksanaan BK hari ini. Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, memulai uraian dengan Konsep Dasar bimbingan dan konseling (Bab I). Kemudian secara urut diulas landasan bimbingan dan konseling; mulai dari landasan Historis, Landasan Filosofis, Landasan Sosial Budaya, Landasan Religius, dan diakhiri dengan Landasan Psikologis (Bab VI).

Otoritas penulisnya di bidang BK, menjadikan buku ini tidak diragukan lagi untuk diambil sebagai salah satu rujukan penting, terutama oleh guru-guru BK di sekolah-sekolah yang sudah beranjak keluar dari paradigma BK. Buku ini juga cocok untuk khalayk umum, utamanya mereka yang memperhatikan kedudukan BK bagi diriny. Kelangkaan buku BK dalam Bahasa Indonesia yang ditulis orang Indonesia sendiri, juga menjadi nilai lebihnya untuk diapresiasi. Wallahu’alam

3 responses to this post.

  1. Posted by IFDIL on Desember 16, 2007 at 8:06 am

    Bu tina esti Yth, Saya IFDIL, sekarang saya mahasiswa s2 BK di UNP, dan juga saya sedang mengambil program s1 kedua karena saya dulunya tidak berlatar belakang BK, saya kagum sekali dengan ibu sebagai guru ibu masih menyempatkan diri untuk bisa membuat block, ibu ingin sharing dengan teman seprofesi agar apresiasi saya sebagai guru BK bertambah. semoga kedepan BK kita menjadi lebih maju, luar biasa tentunya ketika kedepan semua Konselor sekolah bisa saling berbagi didunia maya. apalagi jika keinginan untuk menulisnya tinggi.
    Salam kenal saya untuk ibu. Sayapun masih baru dalam dunia maya ini, dan saya juga mencoba untuk berbagi dengan rekan-rekan dan saya pun mencoba membuat sittus walaupun domainnya masih free.. Ibu mungkin bisa berkunjung ke situs saya http://ifdilkonseling.page.TL

    salam Kenal dan Kompak

    IFDIL

    Balas

  2. Bu Esti yth, saya punya sedikit masalah dengan atasan saya. tapi saya merasa berat untuk membantah hal2 yang sebenarnya betentangan dengan hati nurani saya. Saya mohon saran dari Bu Esti Yth, bagaimana saya harus bersikap terhadap atasan saya, sehingga atasan bisa menerima kebenaran yang seharusnya, dan atasan tidak merasa tersinggung.
    Terima kasih sebelumnya.

    Tentang saya http://sahabatandalas.blogspot.com

    Salam Aksara

    Ken Dee NBL

    Balas

  3. Posted by tinaesti2005 on September 15, 2008 at 5:57 pm

    Bpk. Ifdil dan bpk.Ken yang baik,
    Maaf sekali saya baru baca comment bpk.
    Dikarenakan kesibukan saya dan kesulitan saya selama ini dalam mengakses internet.plus,keterbatasan ilmu saya mengenai manajemen situs ini (gaptek sih ;-p)
    Anyway.Alhamdulillah saat ini masalah saya dengan fasilitas internet dan kesibukan sehari2 sdh dapat diatasi.Dan mengenai keterbatasan kemampuan saya….belajar dong ya🙂 jadi,sekali lagi saya minta maaf ya.
    Untuk bpk. Ken yth.
    Bagaimana,sudah menemukan jalan keluar untuk masalahnya?
    Maaf juga atas keterlambatan menjawab pertanyaan bapak.Kalau boleh saya kasih saran (walau mungkin bpk.sdh.tidak butuh): Cobalah bersikap asertif :bersikap tegas dalam mengemukakan pendapat dgn. cara yang baik.Sebaiknya pelajari dulu sifat dan karakter atasan,sehingga bpk. bisa menemukan cara yang terbaik dalam bersikap terhadap beliau.Memahami sifat & karakter atasan/orang lain akan memberikan banyak keuntungan bagi kita.terutama untuk dapat menemukan cara bersikap yang baik dlm.lingkungan sosial kita.Untuk itu saya sarankan cobalah membaca buku2 pengembangan diri.
    Saya tidak tahu separah apa hal2 atau perintah atasan bpk shg menentang nurani bpk.Tapi yang pasti,kalau menurut bpk perintahnya itu tidak benar dan menentang nurani bpk. saya rasa sdh.seharusnya bapak mendengarkan kata hati nurani bapak,dan berusaha mengatakan yang menurut bapak benar,dengan cara yang terbaik.
    Semoga saran singkat saya ini masih bisa berguna untuk pak ken.

    Terimakasih banyak atas kunjungannya ya.Insya Allah saya juga akan menyempatkan berkunjung ke situs bpk Ifdil dan bpk.Ken.Pastinya menarik sekali!!🙂

    Sincerely yours

    Tina

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: