Pendidikan “Paket komplit”

Pendidikan “Paket Komplit”
( all in one package)

Berawal ketika saya melihat acara Oprah Winfrey Show:
Ada perdebatan mengenai perlu tidaknya pelajaran mengenai Alkitab(Bible) di Sekolah Umum.Seorang ahli agama (bintang tamu) berkeras bahwa hal itu perlu sekali; Alkitab dipelajari sebagai literatur sastra yang dapat memperkaya pengetahuan siswa seperti buku literatur sastra lainnya.
Oprah kemudian mempertanyakan kurang lebih seperti ini:”Sebagai seorang yang religius apakah anda rela bila Alkitab disamakan dengan literatur sastra lainnya? Dan kalau Alkitab diajarkan di Sekolah Umum, berarti Al Qur’an ,dan kitab agama lainnyapun harus diajarkan pula dong?”
Ahli agama itu menanggapinya dengan menyetujui bahwa kitab agama lain pun perlu di ajarkan.Tapi belum sempat menjawab pertanyaan Oprah yang pertama,seorang Audience (seorang anggota komite sekolah) mengungkapkan pendapatnya :”Saya tidak setuju kalau Alkitab atau kitab agama lain di ajarkan di Sekolah umum.Yang pertama karena minimnya anggaran Sekolah umum untuk menggaji tenaga pengajar beberapa Agama besar dunia,juga karena sebenarnya pendidikan agama itu lebih merupakan tanggung jawab orang tua dan ahli agama ybs.”
Perdebatan mengenai pentingnya pengajaran agama di Sekolah umum pernah juga ramai di bicarakan di Indonesia.Tapi bukan itu yang menarik untuk saya bahas saat ini.
Entah kenapa kata-kata singkat dari seorang audience itu (cetak tebal di atas) yang bahkan sepertinya tidak menjadi perhatian Oprah justru menarik perhatian saya.Seperti “aha moment”kecil di benak saya. Mengingatkanku pada beberapa kejadian dalan pengalamanku sebagai guru BK di Sekolah Umum.
Sering kali pada beberapa kesempatan/kasus yang saya tangani,orang tua siswa siswa berkata “Yah tolonglah ibu tangani anak saya,terserah bagai mana caranya.Saya kan sudah memasrahkan anak saya untuk dititipkan di Sekolah ini”.Dan sepertinya guru lain pun (selain aku sebagai guru BK) sering mendengar kata-kata ini.
Bahkan ketika pada akhirnya seorang siswa harus pindah sekolah,karena beberapa pelanggaran yang sudah tidakdapat ditolerir pihak sekolah ( biasanya karena pelanggaran perilaku yang dianggap berat,seperti:mencuri,membeli minuman keras,menghina guru dll.) orang tua masih berusaha melimpahkan tanggung jawabnya kepada guru di Sekolah.”tak bisakah ibu menolong anak saya? Padahal saya sudah mempercayakan anak saya pada Sekolah ini.
Cerita lain mengenai “Pengalihan tanggung jawab orang tua kepada guru” pernah saya dengar sebelum aku menjadi guru:
Seorang saudaraku mempunyai kecil usia TK yang sering berbicara kasar.Ketika saya bertanya karena kaget mendengar kata-katanya yang kasar .Saudara saya itu (ibu dari anak tsb.) menjawab : “Gak tahu tuh sekolahnya di TK X sih,gurunya kurang Credible,jadi ngajarnya kurang bisa”.
Saya bukannya “sinis” terhadap orang tua, ataupun bermaksud mengeluh sebagai seorang guru.
Memikirkan hal ini saya jadi “terhenyak”karena menyadari tingginya ekspektasi masyarakat ,khususnya orang tua siswa terhadap pendidikan;Sekolah;guru;saya!! ( ding dong! Baru nyadar nih🙂 ).
Sebagai seorang guru saya sangat sadar akan tanggung jawab saya.Terutama tanggung jawab moral,selain tanggung jawab akademik(transfer ilmu): Bahwasanya seorang guru adalah seorang yang harus dapat di gugu dan di tiru oleh anak didiknya karena itu saya harus pandai menjaga perilaku (well behaved); Dan seperti asal katanya dari Jepang bahwa seorang guru juga berarti pembimbing spiritual ,saya juga menyadari sekaligus bangga akan tanggung jawab saya yang mulia (juga berat) sebagai guru itu.
Tapi,melalui berbagai pengalaman saya( belum banyak mungkin),saya jadi mempertanyakan sejauh mana sebenarnya tanggung jawab/peran saya sebagai guru terhadap siswa asuh saya.
Saya selalu berusaha dan “bertanggung jawab” sejauh saya mampu (believe me I do!)Tapi entahlah…melalui pengalaman dan pengamatan saya sepertinya masyarakat,terutama orang tua mengharapkan pendidikan “paket komplit” dari Sekolah untuk anaknya.
Tapi,melalui berbagai pengalamanku ( belum banyak mungkin),saya jadi mempertanyakan sejauh mana sebenarnya tanggung jawab/peran saya sebagai guru terhadap siswa asuh saya.
Saya selalu berusaha dan “bertanggung jawab” sejauh saya mampu (believe me I do!)Tapi entahlah…melalui pengalaman dan pengamatan saya sepertinya masyarakat,terutama orang tua mengharapkan pendidikan “paket komplit” dari Sekolah untuk anaknya.

Sederhananya yang diingikan/dilakukan orang tua pada umumnya adalah: mendaftarkan anaknya ke Sekolah; Anaknya akan pergi ke Sekolah tiap hari ; Hasilnya adalah,anaknya itu jadi lebih pintar,lebih sopan dan tidak membuat masalah.
Hal itu memang wajar dan sah-sah saja.Tapi masalahnya orang tua sering kali melupakan perannya dalam mendidik anak.Setelah di daftarkan ke Sekolah orang tua merasa tanggung jawab(“bebannya”) telah di alihkan kepada Sekolah.(Mungkin sudah terlalu lelah bekerja untuk membiayai sekolah anaknya yang dirasa mahal?)
Orang tua merasa sudah “aman” karena anaknya sudah mendapatkan pendidikan di Sekolah dengan “menu komplit”(all in one package);Pendidikan agama,budi pekerti,moral,pengetahuan umum dsb.
Tanpa menyadari bahwa tanpa adanya peran orang tua,pendidikan bagi anak akan “timpang”atau bahkan “lumpuh” karena tidak bermakna.Karena pada dasarnya yang terpenting dalam pendidikan bukan sudah diberikan atau belum kepada anak,tapi apakah pendidikan itu bermakna/berkesan bagi anak tersebut sehingga dapat”berbekas” yang akan terwujud dalam perilaku anak tersebut sebagai hasil belajar.
Akhirnya,saya yakin (juga berharap)tidak semua orang tua beranggapan seperti uraian saya diatas (menganggap bahwa Sekolah sebagai pendidikan “menu komplit”) dan bersikap “take it for granted” karenanya.
Karena ibarat menu empat sehat lima sempurna untuk jasmani,lain halnya dengan pendidikan bagi anak .Menu itu akan sempurna (“komplit”) bila didapatkan secara proporsional dari orang tua (keluarga) dan Sekolah serta lingkungan anak.
Insya Allah……..

One response to this post.

  1. saya setuju dengan anda, pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah, tapi di keluarga (yg utama) dan di masyarakat. pendidikan yg utama seharusnya dimulai dari rumah dan keluarga, karena dalam 24 jam/hari, paling-paling 5 ~ 8 jam di sekolah… sisanya ya di rumah. demikian juga seharusnya negara kita tercinta Indonesia yg ‘katanya’ sudah bangkit sejak 100 tahun yg lalu, justeru saat ini media massanya (menurut saya) masih belum bisa menyuguhkan pendidikan yg ber-mutu. wallahu a’lam…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: