Umar Bakri

Kalau menurut kamu Umar bakri itu Cuma identiksama profesi guru dengan sepeda ontelnya,dan Cuma ada di jaman dulu aja.Well,think again,kalo menurutku sih keadaanku sebagai guru juga kadang mirip2 ma tokoh Umar Bakri: Mengabdi dalam kesederhanaan (ehm..)

Nah,Ini cerita tentang Umar Bakri tahun 2006:

Siang tadi aku hampir yakin kalau hari ini adalah hari sial ku.Berangkat ke Sekolah dengan jalan kaki,tengah hari bolong! Supaya sehat….dan irit!(maklum tanggal tua).Di Sekolah langsung menangani beberapa siswa “bermasalah”.Dua orang siswaku “tersayang” benar-benar membuatku marah.Kepalaku terasa pusing sekali.Kapok kapok deh aku.Gak mau marah-marah kaya gitu lagi,gak ada gunanya!

Sorenya aku berniat home visit ke daerah Kopem.Salah seorang siswaku “kumat” gak Sekolah tiga hari belakangan ini. Ketika akan meminta ongkos,ruang bendahara sekolah sudah kosong. “Mr.money”sudah pulang,kata mas Yono penjaga Sekolah. Aku tenang saja,berniat ke ATM dulu di warung jambu. Soalnya di saku Cuma ada Rp 7500. Eh pas di ATM ternyata gak bisa narik uang lagi,karena saldo tidak mencukupi katanya. Tapi karena aku adalah “si Tina yang keras kepala” aku tetap pergi juga.Aku pikir Kopem kan Jaraknya dekat,cuma sekali naik angkot.

Tapi ternyata sesampainya di Kopem aku masih harus naik becak untuk sampai ke alamat rumah siswaku itu. Ya udah aku naik.Aku pikir kalo ongkosnya gak cukup,pulangnya jalan kaki aja,gak usah naik becak.Tapi ternyata lagi,alamat rumahnya sudah pindah.Tetangganya bilang mereka pindah ke jln.kesenian.Dua blok dari alamatnya yang lama.So, aku sama abang becak nyari alamat rumah itu di tengah hujan deras (kasian si abang becak…dan aku!).Akhirnya ketemu.Aku kepikiran takut ongkos gak cukup.Rok ku basah,kepala ku pusing.Si abang becak menawarkan diri untuk menungguku,tanpa ongkos tunggu katanya ( abang becak yang baik). Entah kenapa aku setuju aja,padahal ongkosnya untuk pulang-pergi sudah pasti pasti gak sesuai dengan uang di sakuku.Setelah ngobrol-ngobrol dengan sang murid “tersayang” dan orang tuanya akupun bersiap untuk pulang.Tiba-tiba mamanya siswa ku itu tiba-tiba memasukkan selembar uang ke dalam saku depan tasku.Sekilas kukira uang itu RP 5000.Aku berusaha menolak,tapi ia memaksa.Dalam hati aku bersorak “horee aku selamat!”

Dalam perjalanan pulang aku lihat uang pemberian itu,ternyata Rp 50.000.Wah aku jadi pengen nangis deh,terharu. Bukan karena jumlah uangnya.Tapi karena aku pikir betapa Allah sudah sangat baik padaku.Dan betapa lemahnya aku, baru di coba sedikit aja udah banyak ngeluh.dan gak ada itu yang namanya hari sial.Bodoh banget ya aku! Coba bayangin,seumur-umur belum pernah aku home visit ada orang tua yang ngasih ongkos.Pernah sih ada yang mau ngasih amplop ( ada isinya tentu aja!) sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah memperhatikan anaknya,katanya waktu itu.Tapi aku berhasil nolak.Tadi aku udah berusaha nolak (sungguh!) tapi gak berhasil.Aku yakin banget kalau itu pertolongan Allah (ya gak?)

Dan tau gak? Muridku “tersayang” itu berhasil aku bujuk untuk masuk sekolah lagi. Ia berjanji kali ini akan lebih rajin dan lebih semangat lagi belajarnya.

Nah,makanya bu guru Tina SEMANGATLAH!!

Hari gini jadi Umar Bakri? Siapa takut!! ;-p

Bogor, April 2006

Ini adalah salah satu tulisan saya di Blog friendster saya.Saya posting disini selain karena saya anggap ini seabagai salah satu pengalaman berharga saya sbg guru,juga karena saya belum sempat membuat tulisan baru.🙂

7 responses to this post.

  1. Subhanallah…

    Balas

  2. Posted by moko on Maret 3, 2009 at 2:47 pm

    Subhanallah

    Balas

  3. Subhanallah, semangat terus semoga ketulusan bu tina mendapatkan pahala dari AllahSWT.

    Balas

  4. Posted by tina on Januari 17, 2010 at 6:17 am

    Amiin..trm ksh atas knjungannya y..🙂

    Balas

  5. Posted by fina on Februari 5, 2011 at 12:56 pm

    subhanallah….Allah selalu menyayangi hamba-NYA yang baik hati sepertimu…menarik sekali pengalamannya say…..*—*

    Balas

  6. Subhanallah… Bu Umar emang hebath!!

    Balas

  7. Posted by lusi triana on Februari 6, 2011 at 8:08 am

    It’s remind me on my reason why i always want to be a teacher for the first time. Selalu berpendapat bahwa sesederhana apapun perbuatan kita kalau didasari dengan ketulusan pasti beda, keep doing good my little sister!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: